Showing posts with label manusia. Show all posts
Showing posts with label manusia. Show all posts

Thursday, November 14, 2013

Corporate Social Responsibility – Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Corporate Social Responsibility - Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Corporate Social Responsibility - Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Sekitar 20 tahun lalu, program CSR atau Corporate Social Responsibility telah mulai melebarkan tujuan, dari sifat-sifat pengembangan kesejahteraan karyawan perusahaan serta semua pihak yang terkena dampak aktivitas perusahaan tersebut sampai mencakup semua jenis bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Kerjasama dengan banyak organisasi non-profit termasuk dalam rencana kerja, tapi semua itu hanya bersifat sukarela saja; tidak ada kewajiban untuk melakukan itu. Pada awal perkembangannya, CSR justru hanya menjadi alat untuk mendorong reputasi perusahaan. Di beberapa tahun terakhir, pola kerjasama seperti seperti ini telah diubah dan sekarang telah menjadi kewajiban perusahaan untuk menerapkan CSR secara menyeluruh baik dalam hal ekonomi maupun konservasi alam.

Sekarang telah terbukti bahwa sebenarnya peningkatan reputasi perusahaan melalui CSR sangat efektif dan berguna. Bahkan kepedulian terhadap lingkungan bisa dikatakan sebagai bentuk bisnis baru, dengan tujuan untuk menunjukkan atau menjaga nama baik perusahaan di mata konsumen. Peduli terhadap karyawan, masyarakat, dan lingkungan adalah hal yang sangat bermanfaat untuk kelangsungan hidup perusahaan, tapi masih banyak pelaku atau pemilik usaha yang belum sepenuhnya menyadari hal itu.

Planet Bumi memiliki batas kemampuan menyediakan atau memperbarui sumber daya alam, sedangkan populasi manusia yang bertambah terus mendorong tingkat konsumsi. Berdasarkan perhitungan oleh Global Footprint Network, diketahui bahwa saat populasi manusia mencapai jumlah 7 sampai 9 miliar, setiap tahun kita memakai lebih banyak SDA daripada yang bisa disediakan Bumi; secara sederhana, dalam memenuhi kebutuhan barang dan jasa untuk 7 – 9 miliar manusia modern, Bumi harus memperbarui SDA-nya satu setengah kali lebih cepat. Hal ini tidak mungkin dilakukan.

Saat ini semakin banyak perusahaan besar menyadari dampak buruk aktivitas mereka bagi lingkungan, dan telah menerapkan CSR secara benar. Tanggung jawab sosial bukan hanya sebagai salah satu aktivitas perusahaan dan inisiatif sukarela, tapi telah menjadi ethos kerja mereka; lingkungan yang kita tinggali telah menunggu terlalu lama untuk hal ini. Penerapan CSR memang telah menjadi semakin terarah, tapi dengan melihat keadaan lingkungan yang sekarang, kita merasa CSR tidak lagi cukup. Aturan perundang-undangan tentang CSR mengharuskan pelaku usaha untuk berkomitmen melestarikan lingkungan. Dengan kata lain, menjaga ketersediaaan sumber daya alam hanya sebagai salah satu aktivitas dalam agenda besar perusahaan.

Ketika CSR dianggap tidak lagi cukup untuk mencapai tujuan utamanya, yaitu menjaga kelestarian alam dan ketersediaan SDA, perusahaan-perusahaan cerdas telah beralih ke SRC (Socially Responsible Corporations); menjaga kelestarian alam adalah inti dan tujuan kegiatan mereka. Kemungkinan kelangkaan bahan mentah dan bahan bakar untuk distribusi menjadi ancaman besar bagi mereka dan harus dianggap sebagai masalah utama yang harus secepatnya diselesaikan.

Tidak ada satu pun korporasi bisa menjamin ketersediaan jangka panjang bahan mentah produksi untuk masa mendatang. Ini adalah tantangan yang harus dihadapai dan diselesaikan secara bersama. Beberapa perusahaan besar berorientasi ke masa depan, menyadari masalah yang ada, dan pengaruhnya untuk mereka. Inilah sebabnya sekarang banyak tercipta kerjasama antara perusahaan besar dan organisasi non-pemerintah (NGO = Non-governmental Organization), juga semakin banyak korporasi memilih berinvestasi untuk menciptakan inovasi dalam rantai distribusi bahan mentah daripada sekedar memberi solusi instan bersifat temporer.

Sebagai contoh adalah kerjasama jangka panjang oleh WWF (World Wildlife Fund) dan Coca-Cola. WWF memberi gambaran rantai distribusi bahan baku Coca-Cola, dan ternyata merupakan informasi yang sebelumnya belum pernah didapatkan perusahaan besar ini. Atas dasar informasi tersebut, Coca-Cola merubah jalur distribusi, berpindah menghindari tempat yang saat itu sedang berusaha dikonservasi oleh WWF.

Bentuk sukses seperti itu tidak mungkin dicapai tanpa kerjasama kedua pihak, tentu saja demi kepentingan lingkungan. Masyarakat tidak boleh melihat hal tersebut serta merta untuk menunda perubahan iklim ekstrim (walaupun WWF dan Coca-Cola memang memperhatikan hal ini), tetapi juga menganggap Coca-Cola sebagai teladan, mengikuti cara perusahaan besar ini dalam mempertahankan distribusi bahan baku tanpa merusak lingkungan. WWF dan Coca-Cola sadar bahwa merubah tanah atau habitat alami menjadi komoditas produksi bisa dengan cepat menghancurkan ekosistem, mengakibatkan polusi udara, dan berpengaruh buruk bagi kehidupan.

Selain poin di atas, masyarakat harus tahu bahwa kesuksesan kerjasama tersebut lepas dari campur tangan pemerintah. Coca-Cola adalah perusahaan komersial, sedangkan WWF adalah organisasi non-pemerintah. Peran regulasi sangat penting, tapi masyarakat tidak boleh hanya mengandalkan kebijakan pemerintah. Kabinet dalam pemerintahan sering berubah, seorang presiden bisa bertahan paling lama dua masa periode jabatan, dan visi negara bisa berubah seiring bergantinya pemimpin. Sedangkan korporasi komersial seperti Coca-Cola telah dikenal dan menetapkan dirinya di mata masyarakat dunia.

Korporasi cerdas melihat jauh ke rentang waktu puluhan tahun ke depan, dan sadar akan ketimpangan antara jumlah kebutuhan bahan baku/mentah dan kebutuhan produksi. Untuk menjaga tingkat keuntungan secara komersial, korporasi mengerti bahwa jika ingin terus menjual barang produksi kepada konsumen, maka diperlukan pengaturan sempurna dalam menjaga ketersediaan bahan mentah; realisasi strategi ini membutuhkan kerja sama dengan pihak lain, bahkan untuk korporasi sekelas Coca-Cola.

WWF dan Coca-Cola tahu bahwa untuk mengembalikan lingkungan ke kondisi optimal, sektor perusahaan harus menjadi yang terdepan, bekerja sama dengan organisasi non-pemerintah, komunitas di masyarakat, pemegang saham, dan tentu saja pemerintah. Keterkaitan semua pihak tersebut dan komitmen mereka memberi harapan besar terciptanya kondisi lingkungan yang baik dan implementasi semua strategi bisa dilakukan dalam jangka panjang. Setiap pihak terkait memang memiliki kepentingan sendiri, tapi tujuan akhir mereka adalah sama.

Pada akhir tahun 2012, The Coca-Cola Company berhasil mengurangi penggunaan air sampai 20% diseluruh sistem kerja mereka, dibandingkan saat mereka beroperasi pada tahun 2004. Karena peningkatan efisiensi produksi ini, reputasi perusahaan dan kerjasama di masyarakat bisa terjaga dengan baik, selain itu juga menciptakan banyak peluang usaha baru.

Wednesday, November 13, 2013

Planet Bumi dan Manusia – Produsen dan Konsumen

Planet Bumi dan Manusia
Planet Bumi dan Manusia

Bentuk hubungan Planet Bumi dan manusia sudah bukan lagi seperti rumah dan penghuninya; sekarang telah beralih menjadi seperti produsen dan konsumen. Kemampuan planet ini menyediakan sumber daya alam untuk jangka waktu setahun, ternyata lebih kecil dibandingkan dengan kemampuan manusia mengkonsumsinya. Menurut Global Footprint Network, wacana ketersediaan SDA sebenarnya sudah mulai diperhitungkan sejak tahun 1975. Bahkan Global Footprint Network setiap tahun menandai hari dan tanggal tertentu, dimana manusia telah menghabiskan SDA yang seharusnya dipakai untuk jangka waktu setahun, dan sering disebut sebagai Earth Overshoot Day.

Secara berurutan dalam 2 dekade terakhir, Earth Overshoot Day jatuh pada tanggal 21 Oktober 1993 dan 22 September 2003. Sedangkan tahun ini jatuh pada tanggal 20 Agustus, artinya setelah tanggal itu manusia harus berada dalam keadaan defisit SDA sampai tahun ini berakhir.

Global Footprint Network menghitung kemampuan Bumi menyediakan SDA (yang dapat diperbarui) dalam setahun, juga jumlah konsumsi total populasi manusia. Hasilnya menunjukkan bahwa kebutuhan konsumen dalam setahun ternyata jauh lebih besar daripada kemampuan produsen memperbarui sumber daya alam yang telah digunakan. Bukan hanya ketersediaan SDA yang terkuras, tapi juga kemampuan Bumi menyerap karbon untuk mencegah peningkatan suhu permukaan planet.

Bumi yang seharusnya menjadi rumah, sekarang tidak bisa lagi menunjang kebutuhan penghuninya. Populasi manusia semakin meningkat, kebutuhan akan SDA juga bertambah, dan sampai sekarang kita hanya punya satu planet untuk ditinggali.

Ada sekitar 4.1 miliar manusia pada tahun 1975, dan konsumsi SDA yang mereka butuhkan dalam setahun masih berada dalam batas kemampuan Planet Bumi; selain itu, jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer masih bisa diserap dengan baik. Sekarang ada lebih dari 7.3 miliar orang di Planet Bumi, dan setiap tahun Earth Overshoot Day selalu jatuh lebih awal, sekitar 1 sampai 2 hari lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya.

Saat ini populasi manusia menggunakan 38% bagian planet untuk bercocok tanam atau beternak. Banyak dari lahan pertanian tersebut yang dulunya berupa padang rumput. Begitu banyak habitat telah hilang karena proses bercocok tanam itu; padang rumput adalah habitat paling rentan punah dan paling tidak terlindungi di Planet Bumi. Proses ekspansi atau perluasan lahan pertanian di masa depan diperkirakan akan berada di wilayah tropis. Proses seperti ini juga akan menghilangkan banyak sekali habitat di hutan tropis untuk menciptakan lahan pertanian baru, perkembangbiakan ternak, pembangunan pabrik kelapa sawit, dan kilang minyak bumi.

Populasi manusia diperkirakan mencapai 9 miliar di tahun 2050, mengakibatkan permintaan akan makanan, air, dan energi menjadi dua kali lipat, mungkin peningkatan kebutuhan SDA secara keseluruhan bisa mencapai 150%.

Bagaimanapun juga, manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan sumber daya alam seperti makanan, air, dan energi. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan meningkatkan efisiensi penggunaan, bukan lagi ekstensifikasi tetapi intensifikasi; menggunakan sedikit sumber daya untuk memenuhi lebih banyak kebutuhan. Intensifikasi dilakukan bukan hanya di bidang pertanian, misalnya dengan menggunakan sedikit air dan lahan untuk menumbuhkan lebih banyak makanan. Implementasi hal serupa juga harus ada dalam penggunaan bahan bakar minyak, misalnya dengan peningkatan efisiensi mesin kendaraan dan sebagainya.

Salah satu hal terbaik yang telah dilakukan adalah dengan menerapkan CSR (Corporate Social Responsibility), dimana perusahaan besar harus berperan aktif atau bertanggung jawab terhadap semua pihak yang terkena dampak aktivitas perusahaan tersebut. Contoh yang paling tepat adalah kerjasama yang dilakukan oleh The Better Cotton Initiative dan WWF (World Wildlife Fund); mereka mengedepankan dan bekerja sama dengan para petani unutk mengatur pengolahan lahan kapas. Dalam jangka waktu 5 tahun dari 2005 sampai 2010, kerjasama ini menunjukkan hasil luar biasa. Penggunaan pestisida berkurang sampai 60%, penggunaan air turun sampai 40%, dan pemakaian pupuk sintetik juga dikurangi sebanyak 30%. Para petani ternyata juga memperoleh peningkatan keuntungan dari 15% sampai 20%.

Hal ini baik untuk petani juga untuk Planet Bumi, karena kapas menggunakan 24% dari seluruh jumlah insektisida di dunia dan menguasai 11% pasar pestisida, sedangkan 73% kapas diprosuksi di tanah irigasi. Kerjasama antara The Better Cotton Initiative dan WWF mungkin tidak terlalu banyak berpengaruh dalam skala global, tapi konsep CSR seperti ini telah dilakukan banyak perusahaan besar untuk menjaga ketersediaan SDA dan keanekaragaman habitat di Planet Bumi.

Friday, September 20, 2013

Teknologi dan Lingkungan – Anthropocene

Teknologi dan Lingkungan – Anthropocene
Teknologi dan Lingkungan – Anthropocene

Istilah Anthropocene digunakan untuk menggambarkan sebuah periode baru di sepanjang perjalanan Planet Bumi dimana aktivitas manusia sangat mempengaruhi keadaan ekosistem planet. Anthropocene akan segera dimasukkan dalam Geologic Time Scale secara resmi. Aktivitas manusia termasuk perkembangan teknologi telah memberi pengaruh besar terhadap planet; manusia memiliki kemampuan luar biasa dalam beradaptasi, bahkan kita membentuk lingkungan agar menyesuaikan dengan kebutuhan kita untuk bertahan hidup.

Menurut para penggagas ide tentang Anthropocene, periode sekarang (Holocene) - dimulai 11.000 tahun lalu – diperkirakan akan selesai antara akhir abad ke-18 dan 1950an. Pada akhir abad ke-18 terjadi perubahan besar terutama peningkatan kandungan karbon dioksida dan gas rumah kaca lain secara drastis di atmosfer; penyebab utamanya adalah pembakaran bahan bakar fosil untuk kebutuhan energi industri dan teknologi.

Kita bisa menganggap bahwa awal dari berakhirnya periode Holocene terjadi pada tahun 1784 (akhir abad ke-18) saat James Watt menciptakan mesin uap, kemudian periode ini benar-benar berakhir saat radiasi nuklir meningkat pesat yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet saat melakukan banyak percobaan bom selama Perang Dingin (1950an).

Awal Periode Anthropocene

Ada beberapa fenomena geologi yang bisa dikatakan sebagai awal periode Anthropocene. Menurut ilmuwan astro-biologi David Grinspoon, penanda awal yang paling menarik adalah uji coba pertama bom atom. Peristiwa ini menciptakan penanda luar biasa besar, mempengaruhi struktur geologi planet.

Manusia memang telah merubah wajah planet jauh sebelum bom atom pertama kali dicoba misalnya dalam hal pertanian, polusi karbon dioksida, urbanisasi, dll. Spesies lain juga melakukan hal yang sama sejak dulu, tapi kita tidak melihat satupun yang sebesar pengaruh bom atom. Setelah peristiwa pengeboman Hiroshima, kita tidak bisa melihat Planet Bumi seperti sebelumnya.

Seperti Dinosaurus – Punah

Kepunahan selalu bisa terjadi, bisa secara alami ataupun karena pengaruh lain. Dengan keadaan seperti ini, bukan manusia yang terancam punah, tapi spesies lain. Seperti telah disebutkan pada posting sebelumnya, keanekaragaman mahkluk menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab besar bagi manusia sebagai spesies dominan. Satu hal pasti adalah bahwa aktivitas yang dilakukan generasi sekarang akan terus diingat oleh banyak generasi selanjutnya.

Contoh paling mudah adalah terumbu karang. Proses pengasaman air laut karena aktivitas manusia akan dengan cepat menghilangkan keberadaan mereka. Air laut memiliki kamampuan menyerap karbon dioksida dari atmosfer; semakin banyak CO2 yang terserap, struktur kimia air laut akan berubah dan tingkat keasamannya akan semakin tinggi. Terumbu karang akan mengalami kesulitan menyerap kalsium karbonat, yang sangat penting untuk mempertahankan struktur tulang mereka. Bebatuan yang menjadi tempat hidup merekapun juga akhirnya akan hancur karena tingginya asam.

Sebenarnya terumbu karang pernah punah sebelumnya dan bisa kembali muncul, tapi proses ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Proses kepunahan terumbu karang yang terjadi sekarang akan terus diingat sebagai hasil aktivitas manusia terutama berkaitan dengan polusi.

Dalam beberapa hal, Anthropocene mungkin bisa dianggap mirip dengan K/T boundary (peristiwa kepunahan Dinosaurus), dimana Planet Bumi kemudian mengalami proses transisi menjadi tempat yang nyaman bagi mamalia. Perbedaan yang paling besar adalah K/T boundary memusnahkan hampir semua spesies, sedangkan Anthropocene dimulai oleh manusia dan membahayakan spesies lain. Di saat-saat terburuk, manusia mungkin juga akan terancam hilang, tapi hal ini masih bisa dicegah jika langkah-langkah antisipasi dengan segera diterapkan.

Jenis Kehidupan Buatan

Banyak spesies telah punah, tapi manusia mungkin bisa mengembalikan keberadaan mereka dengan menerapkan teknologi modern misalnya nano-robot, transgenetik, bahkan kehidupan sintetik. Secara awam, hal ini memang baik, tapi tidak demikian dari sudut pandang biologi. Teknologi semacam itu sangat beresiko, karena bisa mengubah atau bahkan merusak ekosistem alami. Jika sebuah spesies punah, maka hal itu disebabkan karena lingkungan mereka yang tidak mendukung. Jika kita ingin menghidupkan lagi spesies tersebut, maka kita juga harus menyediakan habitat yang tepat; di sisi lain, proses evolusi akan berhenti.

Wednesday, September 18, 2013

Teknologi dan Lingkungan

Teknologi dan Lingkungan
Teknologi dan Lingkungan

Teknologi bisa mengembangkan bentuk kehidupan manusia, meningkatkan produktivitas, memudahkan proses interaksi, bahkan membawa kita ke luar angkasa; di saat yang sama, teknologi juga memperburuk keadaan lingkungan dan mengancam kelestarian alam termasuk kelangsungan hidup hampir semua spesies.

Charles Dickens pernah menulis: “These are the best of times, these are the worst of times.” (sekarang adalah saat-saat terbaik, juga terburuk).

Banyak pertanyaan tentang teknologi, kebanyakan tentang bagaimana manusia bisa terus meningkatkan kegunaannya dalam kehidupan. Kita melihat teknologi baru hampir setiap hari; hidup berjalan cepat, pekerjaan terselesaikan dengan lebih mudah, penyakit bisa disembuhkan. Di sisi lain, hanya sebagian orang yang melihat kemajuan teknologi dari skala yang lebih luas terutama tentang pengaruhnya terhadap alam. Untuk menjaga kelestarian alam dan kelangsungan hidup berbagai macam spesies di dalamnya, harus ada banyak sekali aspek-aspek alami yang masih harus dipertahankan; dijauhkan dari pengaruh buruk perkembangan teknologi.

Bisakah manusia bertahan dengan bentuk kehidupan masa depan yang dipenuhi mesin, teknologi nirkabel, robot, dan sebagainya? Semua bentuk teknologi dimaksudkan untuk membantu segala macam kegiatan manusia. Apakah bentuk kehidupan modern mendukung atau justru melemahkan kemampuan adaptasi kita dengan lingkungan? Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang berusaha dijawab oleh sekumpulan ilmuwan dalam sebuah simposium yang diadakan di Library of Congress, Washington, tanggal 12 September lalu.

Ilmuwan astro-biologi bernama David Grinspoon mengatakan bahwa ciri utama yang dimiliki spesies manusia adalah kemampuan besar dalam beradaptasi. Pertanyaannya adalah, “bisakah manusia mempertahankan kemampuan itu?”

Grinspoon menambahkan, “manusia mungkin tidak bisa memprediksi bentuk kehidupan masyarakat modern di masa depan, tapi kita bisa memperoleh gambaran cukup jelas tentang itu dari model sains, penelitian sejarah, dan tentu saja, imajinasi.”

Beberapa ilmuwan telah mulai menggunakan istilah baru “anthropocene” yaitu periode geologi dalam sejarah Bumi dimana aktivitas manusia berpengaruh sangat besar di ekosistem planet. Salah satu masalah paling besar yang harus dihadapi adalah keanekaragaman. Tentu saja banyak pihak yang melakukan usaha konservasi hewan dan tumbuhan misalnya harimau dan badak, tapi bagaimana dengan spesies-spesies lain? Seorang wartawan yang juga merupakan partisipan dalam diskusi itu, David Biello dari Scientific American, mengatakan “Pada akhirnya kita hanya akan melihat satu jenis kupu-kupu saja”.

Kupu-kupu menjadi topik hangat dalam pembicaraan itu, saat panelis mulai membahas tujuan utama pelestarian spesies. Seorang ilmuwan bernama Odile Madden bertanya, “Apakah kupu-kupu berhak dilestarikan hanya karena sekarang memang ada kupu-kupu”?

Biello mengungkapakan bahwa manusia harus bisa mempertahankan atau menyimpan informasi genetik kupu-kupu dan semua jenis binatang lain. Dia juga berharap semua informasi tentang bagaimana segala jenis mahkluk berinteraksi dengan alam dipertahankan.

Manusia

Manusia telah berkembang menjadi mahkluk dominan di planet ini; kita berrada di puncak rantai makanan selama ribuan tahun. Kita bahkan bisa menganggap kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan terlalu besar; kita bahkan bisa merubah atau memaksa lingkungan untuk beradaptasi dengan kita. Sejauh ini, masih banyak organisme yang selamat dan hidup, tapi untuk terus mempertahankan keanekaragaman mahkluk, manusia harus bisa melihat dirinya sebagai bagian dari planet dan sebagai satu spesies diantara yang lain.

Rick Potts berhasil memberikan setidakanya deskripsi awal tentang bagaimana manusia harus bersikap. Dia adalah seorang ilmuwan paleo-antropologi sekaligus kurator di National Museum of Natural History. Potts memberikan gambaran tentang ini melalui “tragedy of the commons” yaitu sebuah konsep ekonomi dimana manusia menghiraukan hilangnya sumber daya alam karena sifat manusia yang mengedepankan dirinya sendiri, dan tidak menganggap bahwa dia adalah bagian dari sebuah kelompok besar.

Potts juga mengatakan bahwa manusia, didukung kecerdasan dan kemampuan beradaptasi, telah berhasil membangun dinding pemisah antara kehidupan alam dan kehidupan manusia, tapi di sisi lain proses evolusi seperti ini adalah fenomena alami.

Diskusi lebih lanjut tentang “anthropocene” akan ada di posting selanjutnya.

Tuesday, April 2, 2013

Peran Manusia dalam Ekosistem

Peran Manusia dalam Ekosistem
Peran Manusia dalam Ekosistem
Manusia sebenarnya juga mampu memberi dampak positif terhadap lingkungan melalui berbagai cara misalnya perlindungan dan pengembangan ekosistem atau habitat. Penanaman pohon dan semak belukar serta perencanaan penyediaan makanan di tempat tertentu adalah strategi yang bisa meningkatkan kualitas kehidupan satwa liar secara umum. Bahkan strategi ini bisa dilakukan secara perseorangan oleh para pemilik lahan.

Populasi manusia dapat membantu program perlindungan danau, sungai dan rawa-rawa dari proses pengendapan dengan mengurangi erosi tanah di sekitar ekosistem perairan tersebut. Sarang-sarang buatan di wilayah yang memiliki sedikit lubang-lubang pohon juga bisa memancing keberadaan burung dan tupai. Dan masih banyak hal lain yang bisa dilakukan manusia.

Ada banyak organisasi swasta maupun pemerintah yang bisa membantu kita untuk mengerti, mengatur, dan melindungi lingkungan alam. Organisasi konservasi juga biasanya menampung para sukarelawan yang bersedia ikut aktif dalam semua kegiatan perlindungan satwa dan lingkungan.

Salah satu organisasi internasional yang bisa menjadi contoh adalah IPM (Integrated Pest Management). Tujuan utama organisasi ini adalah untuk mencegah atau mengurangi kerugian petani karena kerusakan tanaman yang disebabkan oleh hama. Tujuan ini sebenarnya juga sangat cocok jika diterapkan di Indonesia dimana sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Berbagi metode digunakan seperti rotasi jenis tanaman (pergantian jenis tanaman untuk mencegah perusakan oleh hama), menggunakan tanaman tahan hama, sistem pengolahan mekanik, pergantian masa tanam dan panen, kontrol secara biologi (menggunakan jenis binatang lain untuk memangsa hama), dan pemanfaatan bahan-bahan kimia.

Penerapan berbagai metode memang sering lebih manjur daripada menggantungkan pada satu jenis strategi saja. Walaupun sangat sulit untuk benar-benar menghilangkan dampak kerusakan yang disebabkan oleh hama, organisasi semacam IPM setidaknya mampu meminimalisir kerugian petani karena faktor lingkungan. Bahkan IPM juga mampu mengurangi penggunaan pestisida. Penelitian lapangan perlu dilakukan untuk menentukan apakah kontrol terhadap hama memang dibutuhkan. Aspek ekonomi juga perlu dilibatkan; IPM akan melakukan tindakan yang diperlukan hanya jika jumlah hama yang ada di lahan-lahan pertanian dianggap merusak. Perkiraan kerugian petani juga diperhitungkan. Jika biaya pengendalian hama lebih kecil daripada kerugian yang diperkirakan, maka beberapa strategi akan diterapkan untuk mengurangi tingkat kerugian secara ekonomi. Dalam beberapa kasus, hama memang dibiarkan memangsa hasil panen.